Rabu, 03 Oktober 2012

Review Jurnal Pengantar Ilmu Penangkapan Ikan


Analisis Perbandingan Produktivitas Usaha Penangkapan Ikan Rawai Dasar (Bottom Set Long Line) dan Cantrang (Boat Seine) di Juwana Kabupaten Pati

Rawai dasar (Bottom set long line) merupakan alat tangkap yang cocok digunakan di perairan Indonesia, karena wilayah perairan yang luas dan kaya akan berbagai ikan dasar. Alat tangkap Cantrang (Boat seine) juga digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal. Akan tetapi tingkat pemanfaaatan ikan antara satu kawasan dengan kawasan perairan lain tidaklah sama. tingkat produktivitas perikanan tangkap dengan menggunakan alat tangkap Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine) masih rendah di wilayah ini, oleh karena itu diadakan penelitian ini.
Setiap usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tertentu akan selalu menginginkan keuntungan yang dapat berlangsung terus menerus Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine) merupakan alat tangkap yang ditujukan untuk menggantikan alat tangkap trawl yang terjadi tahun 1980, dihapuskan dan tidak boleh dioperasikan, karena merupakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan membandingkan tingkat produktivitas dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai total dari hasil tangkapan serta tingkat keuntungan usaha penangkapan pada alat tangkap Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine) di perairan Juwana, Pati.
Biaya penyusutan merupakan pengurangan nilai dari faktor produksi tahan lama yang diakibatkan oleh waktu dan pemakaian. Pada usaha penangkapan Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine) yang merupakan faktor produksi tahan lama adalah kapal, mesin kapal, alat tangkap, alat bantu dan peralatan lainnya. Berdasarkan data yang didapat, bahwa biaya investasi yang paling besar adalah usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap rawai dasar (Bottom Set Long Line).
Besarnya biaya investasi tersebut, paling besar adalah untuk pengadaan kapal, disusul kemudian alat tangkap untuk Rawai dasar (Bottom set long line) dan mesin untuk Cantrang (Boat seine), selanjutnya alat bantu. Lalu, rata-rata biaya penyusutan yang dikeluarkan oleh usaha penangkapan dengan kapal Rawai daasar (Bottom set Long Line) lebih besar daripada kapal Cantrang (Boat Seine). Ini dikarenakan para juragan kapal Cantrang (Boat Seine) lebih memilih membeli kapal second daripada kapal baru, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih sedikit.
Alat tangkap yang digunakan kapal Rawai dasar (Bottom set long line) juga mengalami penyusutan lebih besar daripada Cantrang (Boat seine), hal ini diakibatkan karena mata pancing dalam pengoperasian seringkali hilang oleh adanya arus yang besar. Sehingga harus sering mengganti dengan mata pancing yang baru. Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yaitu hasil penjumlahan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Besarnya biaya total (input) pada usaha penangkapan alat tangkap Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine). Biaya total usaha alat tangkap Cantrang (Boat seine) lebih besar daripada usaha alat tangkap Rawai dasar (Bottom set long line). Hal ini disebabkan oleh biaya operasional dan biaya perawatan Cantrang (Boat seine) lebih besar karena cara operasi penangkapan Cantrang (Boat seine) ditarik dari atas kapal sehingga memerlukan bahan bakar yang banyak untuk menggerakan 2 mesin dan perawatan terhadap mesin yang cepat rusak karena menggunakan bahan bakar minyak tanah dan banyaknya nelayan melakukan operasi penangkapan (trip) dalam satu tahun.
Faktor yang mempengaruhi nilai total hasil tangkapan Rawai dasar (Bottom set Long Line) dan Cantrang (Boat Seine) adalah biaya operasional dengan nilai elastisitas produksi. Produktivitas yang dihitung dari alat tangkap Rawai dasar (Bottom set long line) dan Cantrang (Boat seine) ini meliputi produktivitas per unit alat, per ABK dan per trip penangkapan. Keuntungan yang diperoleh dari kedua alat tangkap tersebut lebih menguntungkan Rawai dasar (Bottom set long line) dibandingkan alat tangkap Cantrang (Boat seine), tapi produktivitas yang diperoleh Cantrang (Boat seine) lebih tinggi jika dibandingkan dengan Rawai dasar (Bottom set long line). Hal ini dikarenakan jumlah trip dalam 1 tahun pengoperasian alat tangkap Cantrang (Boat seine) lebih banyak jika dibandingkan dengan Rawai dasar. Dan keuntungan yang diperoleh oleh usaha penangkapan Cantrang (Boat seine) lebih banyak daripada keuntungan yang diperoleh usaha penangkapan Rawai dasar (Bottom set long line). Ini dikarenakan penerimaan Cantrang (Boat seine) lebih besar dibandingkan dengan Rawai dasar (Bottom set long line). Sedangkan biaya total yang dikeluarkan oleh Cantrang (Boat seine) lebih sedikit jika dibandingkan dengan Rawai dasar (Bottom set long line).

TIPS MANAJEMEN WAKTU



Tips Manajemen Waktu 
Manajemen waktu sangat penting di dalam semua bidang kehidupan. Jika Anda dapat menjadi master utnuk waktu Anda, maka Anda akan menuai keuntungan baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan pribadi Anda. Kita semua bersalah karena telah membuang-buang waktu dan menunda melakukan berbagai aktivitas hingga besok, tetapi semakin Anda dapat secara efektif mengelola waktu Anda maka Anda akan menjadi lebih bahagia. Lihatlah tips di bawah ini dan coba terapkan dalam kehidupan Anda.

1.     Memiliki jadwal – Buatlah rincian bagaimana Anda merencanakan untuk menghabiskan hari Anda.  Jika Anda membagi waktu Anda ke dalam blok dengan tugas yang perlu Anda selesaikan hari itu maka ini akan membantu Anda tetap fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan hal-hal tepat waktu serta tidak kehilangan apa-apa.

2.     Berkomitmen dalam hal itu -  Yang penting bahwa seklai Anda telah membuat jadwal Anda, Anda akan benar-benar melakukan hal yang terbaik untuk menaatinya. Dari waktu ke waktu mungkin Anda tidak bisa melakukan hal itu karena keadaan, tapi ini harus menjadi pengecualian dan bukan aturan.

3.     Melakukan hal-hal di dalam daftar – Selain membuat daftar, Anda juga harus melakukan hal-hal yang telah Anda tulis di dalam daftar. Selesaikan mereka sehingga Anda bisa membuat daftar yang baru lagi.

4.     Jangan membuang waktu – Mudah bagi kita untuk menemukan berbagai alasan ketika kita mencoba untuk bekerja. Berhenti memeriksa e-mail Anda setiap 5 menit, melihat statistik website, atau hanya browsing hal-hal yang tidak penting di internet. Anda mungkin memiliki rekan di tempat kerja yang tidak pernah berhenti bicara, dalam hal ini Anda harus melakukan yang terbaik untuk menghindari mereka.

5.     Menentukan tujuan – Anda mungkin merasa itu dapat membantu jika Anda memberi insentif untuk diri Anda sendiri dalam jadwal Anda. Mungkin istirahat untuk minum kopi setelah menyelesaikan tugas-tugas tertentu dalam jadwal Anda atau menghabiskan makan malam di sebuah restoran di akhir minggu jika Anda telah menyelesaikan tugas-tugas Anda dan membuat daftar kegiatan Anda untuk hari Senin nanti.

6.     Membuat delegasi – Jika Anda cukup beruntung untuk memiliki orang-orang untuk bisa menyelesaikan pekerjaan tertentu, maka pastikan Anda memanfaatkan mereka untuk potensi mereka sepenuhnya. Lihatlah daftar tugas Anda dan delegasikan tugas secara efektif.

7.     Relaksasi – Pastikan Anda selalu menyiapkan waktu untuk bersantai. Jika Anda tidak meluangkan waktu setiap hari untuk memiliki beberapa bentuk relaksasi maka Anda mungkin perlu mengambil cuti untuk waktu yang lama karena stres. Ini adalah waktu Anda jadi lakukan apa yang membuat Anda bahagia dan memungkinkan Anda untuk bersantai.

Sekarang, hari-hari Anda akan menjadi lebih menyenangkan! 

Rabu, 26 September 2012

Miss My Family :)


kalo aku kangen sama papah , yang aku lakuin cuma bisa nangis n nangis .
aku yakin , sampe sekarang pun aku belom bisa ngebahagiain papah .
aku cuma bisa nyusahin papah doang .

nanti tanggal 28 juli , genap udah 2 tahun papah ninggalin aku , ade aku n mamah .
kangen pah sama papah .
kangen sama bawelnya papah ,
yang ga ngebolehin aku belajar berenang , yang ga ngebolehin aku main malem'' , yang ga ngebolehin aku megang hape sendiri , yang ga ngebolehin aku bawa motor jauh'' ,
kangen sama kocaknya papah ,
kangen sama kemarahannya papah ,
pokoknya kangen segala''nya deh .
hhuh , :'(
kalo inget waktu dulu , aku gag kuat hadapinnya .

ga kuat ngeliat mamah yang begitu TEGAR ngerawat papah .
ga kuat ngeliat papah yang menahan sakit yang papah derita .
ga kuat papah di rawat di ICU rumah sakit .
ga kuat ngeliat nasib ade yang masih terlalu muda buat nerima semuanya .
ga kuat , pokoknya gag kuat .

kemarin , maaf ya pah aku baru sempet lagi ke makam papah .
aku baru nengokin papah lagi .
aku baru sempet ngirim doa secara langsung ke papah .
tapi sampe kapan pun , aku ga bakal lupa sama papah .
buat mamah , aku akan ngejagain mamah selalu .
aku akan jadi seorang wanita yang tegar seperti mamah . :*
buat adikku , jangan manja lagi , jadi wanita yang tegar ya seperti mamah .
I love u so much my daddy .
Love u forever . :*

Minggu, 23 September 2012

Identifikasi Alat Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan di Kawasan Konservasi Laut Pulau Pombo Provinsi Maluku


Aktivitas penangkapan ikan di Indonesia telah mendekati kondisi kritis, akibat tekanan penangkapan dan tingginya kompetisi antar alat tangkap dan telah menyebabkan menipisnya stok sumberdaya ikan. Sehingga nelayan mulai melakukan modifikasi alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal termasuk menggunakan teknologi penangkapan yang merusak (destruktif fishing) atau tidak ramah lingkungan.
Kondisi ini turut memberikan dampak negatif terhadap kawasan konservasi laut di Indonesia yang ditetapkan pemerintah untuk melindungi keanekaragaman hayati laut beserta jenis fauna langka. Salah satunya dialami oleh perairan laut Pulau Pombo di kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku, yang telah ditetapkan pemerintah sebagai Kawasan Konsevasi sejak tahun 1973 melalui SK Menteri Pertanian No.327/KPTS/Um/7/1973, dan mulai dimaksimalkan pengelolaannya pada tahun 1996 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 392/Kpts-VI/96 dengan status Cagar Alam daratan seluas 2 ha dan Taman Wisata Laut seluas 998 ha.
Pulau Pombo adalah pulau yang tidak berpenghuni dan sejak dahulu dimanfaatkan sebagai tempat wisata, mencari ikan dan kerang-kerangan (bameti) serta tempat berlabuh nelayan saat melakukan penangkapan ikan. Walaupun telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut, namun aktivitas penangkapan ikan dan pengumpulan biota laut di kawasan ini berlangsung pesat dengan menggunakan berbagai metode dan teknologi penangkapan, termasuk pengoperasian alat tangkap merusak.
Evaluasi dampak pengoperasian alat penangkap ikan minimal harus mampu menjawab tiga dampak utama, yaitu : (1) dampak terhadap lingkungan, (2). dampak terhadap kelimpahan sumberdaya dan (3) dampak terhadap target sumberdaya ikan. Sehingga dianggap perlu melakukan identifikasi semua jenis alat tangkap yang beroperasi di perairan pulau Pombo sebagai bahan informasi dalam upaya pengelolaan kawasan Konservasi Laut pulau Pombo agar terhindar dari kerusakan.

Berikut adalah 9 alat penangkapan ikan yang biasa dioperasikan didaerah Pulau Pombo Provinsi Maluku  :
Pancing Ulur (Hand Line)
Alat penangkapan ikan yang memiliki prinsip penangkapan dengan memancing ikan target sehingga terkait dengan mata pancing yang dirangkai dengan tali menggunakan atau tanpa umpan
·         Jaring Insang Permukaan (Surface Gill Net)
Alat penangkapan ikan yang memiliki prinsip ikan yang tertangkap umumnya tersangkut di bagian insang. Pengoperasiannya menggunakan pemberat pada bagian bawah jaring dan bagian atasnya diberikan pelampung, sehingga tubuh jaring secara keseluruhan berdiri tegak di dalam perairan untuk bisa menghadang gerombolan ikan.
·         Jaring Insang Dasar (Bottom Gill Net)
Alat tangkap yang ramah lingkungan dengan memenuhi 6 dari 8 indikator alat tangkap ramah lingkungan, dimana tidak menangkap ikan berkualitas tinggi karena ikan yang terjerat jika dibiarkan lama akan mati sehingga menurunkan kesegaran ikan. Kelebihan alat tangkap ini adalah bersifat menetap, sehingga jika ditinjau dari aspek ramah lingkungan tidak merusak karang secara meluas.
·         Jala Tebar (Casting Net)
Jala relatif tergolong alat tangkap yang merusak dengan hanya memenuhi 5 dari 8 indikator alat tangkap ramah lingkungan. Meskipun alat tangkap ini memiliki hasil tangkapan sampingan rendah karena ukuran mata jaring yang digunakan disesuaikan dengan ikan target penangkapan, namun alat tangkap ini akan bisanya menangkap biota laut langka yang di lindungi seperti penyu dan dugong yang tanpa sengaja terjerat jaring sehingga dinilai tidak memiliki selektif tinggi.
·         Bubu (Trap)
Alat tangkap ini terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk empat persegi panjang dan memiliki satu pintu. Alat tangkap ini bersifat menetap sehingga tidak merusak karang secara meluas, namun akan berbahaya jika dioperasikan dalam jumlah yang banyak.
·         Bameti (Alat Pengumpul)
Alat pengumpul moluska yang biasanya berupa parang dan linggis atau benda keras lainnnya untuk mencungkil moluska yang menempel.
·         Potas (Obat Bius)
Potas (potasium cyanide) didapatkan nelayan setempat dari para pengusaha atau pedagang pengumpul ikan karang hias. Penggunaan potas untuk mendapatkan ikan karang hidup dan tanpa cacat. Dengan cara menyemprotkan potas ke arah terumbu karang yang menjadi tempat bersembunyinya ikan, sehingga ikan mengalami pusing dan penangkapannya lebih mudah. Namun cara ini, sangat merusak terumbu karang karena penyemprotan potassium cyanida menyebabkan hewan karang mengalami stress dan mati. Bahkan ikan hasil tangkapan menggunakan potasium cyanida akan mempengaruhi kesehatan manusia jika dibeli dalam keadaan mati, karena ikan yang mati menyimpan bahan kimia beracun dalam tubuhnya yang tidak sempat dikeluarkan melalui proses metabolisme.
·         Bahan Peledak (Blast Fishing)
Bom terbuat dari bubuk mesiu bekas peninggalam perang dunia II yang tidak meledak, dan berkembang dengan menggunakan bom botol (bom molotov) yang dibuat dengan mencampurkan bahan kimia. 

Sabtu, 22 September 2012

15 pulau terluar kepri tak berpenghuni


BATAM, KOMPAS.com — Dari 19 pulau terluar di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, 15 di antaranya tak berpenghuni. Mercusuar dengan cat merah-putih telah didirikan di 14 pulau tak berpenghuni tersebut sebagai penanda wilayah Indonesia.
"Satu-satunya pulau yang belum dibangun mercusuar dan belum ada penduduknya adalah Pulau Sentut. Tahun ini kami akan membangunnya," kata Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani, Selasa (5/4/2011).
Pembangunan mercusuar sejauh ini dinilai sebagai langkah paling realistis untuk meminimalkan kemungkinan adanya klaim wilayah dari negara yang berbatasan atas pulau-pulau terluar tak berpenguni. Mobilisasi penduduk ke pulau tersebut sejauh ini belum menjadi pilihan karena secara geografis pulau-pulau itu sulit dihuni dan belum siap dihuni.
Pulau-pulau terluar umumnya berukuran sangat kecil dan jauh dari pulau utama. Tak ada akses air bersih di pulau tersebut sehingga mutlak dipasok dari pulau utama. Demikian halnya dengan kebutuhan bahan pangan yang mutlak dipasok dari pulau-pulau utama.
Dalam strategi pembangunannya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkomitmen mendorong percepatan pembangunan daerah terluar. Namun, hal ini terbatas pada pulau berpenghuni. Untuk Pulau Subi Kecil, misalnya, sedianya akan dicetak sawah.
Wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang 96 persen berupa lautan terdiri atas 2.408 pulau. Provinsi tersebut berbatasan langsung dengan wilayah negara Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Vietnam. Pulau terluar paling banyak berbatasan dengan Malaysia, di antaranya Karimun Kecil, Iyu Kecil, Sentut, Tokong Malang Biru, dan Kepala.
Adapun empat pulau terluar yang berpenghuni meliputi Nipah, Senoa, Subi Kecil, dan Karimun Anak. Pulau Nipah dihuni marinir dengan sistem rotasi pasukan secara berkala. Sementara tiga pulau lainnya dihuni penduduk sipil.
Persoalan pengelolaan pulau terluar, menurut Sani, antara lain terkait dengan potensi abrasi mengingat pulau terluar umumnya berukuran kecil dan beberapa di antaranya adalah pulau pasang-surut. Setiap abrasi yang terjadi akan berimplikasi pada batas laut wilayah Indonesia.
Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran KSAL Laksamana Pertama SM Darojatim saat menjabat Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV pernah menyatakan, perairan di Kepulauan Riau adalah wilayah yang rawan pelanggaran batas negara. Ini terjadi karena secara alami perairan Kepulauan Riau berbatasan langsung dengan negara tetangga.

RHYNCHOCOELA



MAKALAH AVERTEBRATA AIR
FILUM RHYNCHOCOELA





Oleh :

ARDIAN                                 (H1G009023)
               DWI RETNO MAWARNI      (H1G011015)
AYU SEKARTINI                  (H1G011017)
ARIA BELA PERTIWI            (H1H011039)
CYRUM BARNIKE.BK.     (H1G010043)






JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

DAFTAR ISI


                                                                        Halaman

KATA PENGANTAR..................................................................................... 3
DAFTAR ISI................................................................................................ ...2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ ....4
BAB II . PEMBAHASAN..............................................................................4
               2.1 Rhynchocoela……..…………………………………….…..…4
               2.2 FISIOLOGI…..………………………………………….…....5
                        2.2.1 REPRODUKSI…….………………………..………...7
                        2.2.2 Sistem Pencernaan Makanan .………...…………….....8
                        2.2.3 Sistem Sekresi…….……………………………......…..9
                        2.2.4 Sistem Respirasi..............................................................9
                        2.2.5 Sistem Pertahanan Diri...................................................9
                        2.2.6 Sistem Peredaran Darah.................................................9
                        2.2.7 Sistem Saraf...................................................................10
                        2.2.8 Sistem Otot....................................................................10
               2.3 KLASIFIKASI RYNCHOCOELA..........................................11
                        2.3.1 Anopla............................................................................11
                        2.3.2 Enopla............................................................................12
BAB III KESIMPULAN................................................................................14        
GLOSARIUM...................................................................................... .........15    
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 16
       

KATA PENGANTAR
          Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT Yang  Maha Esa, karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya kami dari kelompok 14 dapat menyelesaikan tugas terstruktur kami tepat waktu.Terima kasih kami ucapkan kepada bapak Drs. Setijanto,M.Sc,ST selaku dosen  pembimbing mata kuliah avertebrata air kami yang telah banyak memberikan arahan dan saran-saran yang sangat membantu dalam kelancaran pengerjaan tugas terstruktur ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada kakak tingkat dan semua teman-teman yang telah membantu yang namanya tak bisa kami sebutkan satu per satu.
Tugas terstruktur ini berjudul “ RHYNCHOCOELA“, Rhynchos berasal dari bahasa Yunani, Rhynchos berarti moncong dan coel berarti rongga. Rhynchocoela bertubuh pipih dorsovental, tak bersegmen, dan memanjang seperti cacing pita. Mereka sudah memiliki sistem digesti yang sempurna, sistem sirkulasi yang sejati, dan melakukan respirasi dengan cara difusi. Umumnya terdapat di pantai, di bawah batu dan rumput laut; beberapa hidup di air tawar atau di tanah yang lembab. Beberapa commensal  dengan bunga karang dan mollusca.

” Tak ada gading yang tak retak ” begitu juga kami mohon maaf apabila dari tugas terstruktur ini banyak terdapat salah kata ataupun  kesalahan-kesalahan lain yang mungkin ada yang kurang berkenan di hati. Semua ini tak lebih dari keterbatasan kami sebagai manusia yang sedang dalm proses pembelajaran. Harapan terakhir semoga tugas terstruktur kami ini mendapatkan nilai yang bagus dan bermanfaat bagi para pembacanya.                                                          
Purwokerto,  18 Maret 2012


                                                                                                Tim Penulis


I.         PENDAHULUAN

Rhynchocoela disebut juga Nemertina atau Nemertea. Bentuk tubuh seperti cacing ada sebagian yang pipih dorsovental, panjang 2 cm sampai 2 m. Warna tubuh biasanya pucat, namun ada yang cerah, merah, jingga, hijau, dan bergaris-garis. Bentuk kepala tidak jelas, mempunyai Proboscis. Proboscis adalah semacam belalai yang dapat dijulurkan untuk menangkap mangsa, dan dapat ditarik ke dalam mulut.
Kebanyakan Rhynchocoela hidup di laut, terdapat di pantai, di bawah batu atau rumput laut. Beberapa jenis di air tawar atau tanah lembab, berkomensalisme dengan coelentrata dan moluska serta tidak ada yang parasit dan terdapat sekitar 650 spesies.
Rhynchocoela lebih maju dari platyhelminthes dalam dua hal; mempunyai sistem pencernaan lengkap terdiri atas mulut di anterior yang berhubungan dengan usus yang lurus sepanjang badan, dan anus di ujung posterior, sedangkan Coelentrata dan Platyhelminthes tidak mempunyai anus. Kemajuan kedua adalah Rhynchocoela mempunyai sistem peredaran darah tertutup, tetapi belum mempunyai jantung. Darah umumnya tidak berwarna, beberapa spesies berwarna karena mempunyai hemoglobin.


II.      PEMBAHASAN

2.1.            Rhynchocoela
Rhynchocoela adalah hewan yang memiliki proboscis dan terkenal dengan sebutan Ribbon worms. Disebut Ribbon Worms karena spesiesnya ada yang panjangnya mencapai 100 kaki atau 33 m, contohnya Lineus longissimus, namun adapula yang panjangnya hanya 0,5cm, contohnya Dinonemertes investigatoris.
Rhynchocoela merupakan salah satu spesies hewan laut yang tidak bertulang belakang dengan karakteristik tubuh berbentuk pipa dan berlubang, panjang, memiliki Rhyncocoel yang di dalamnya terdapat proboscis yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa, memiliki duri yang tajam untuk melindungi diri dan triploblastic(endoderm, mesoderm, ectoderm).
Jenis Rhynchocoela yang besar jika diganggu cenderung akan memotong dirinya, dan bagian anterior melakukan regenerasi menjadi bagian cacing yang utuh sedangkan bagian posterior mati. Proboscis yang putus juga dapat tumbuh kembali.
Beberapa spesies dari Rhynchocoela, termasuk genus Lineus bereproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi, artinya regenerasi terjadi setelah pemisahan. Kebanyakan Rhynchocoela adalah dioecous, beberapa jenis air tawar dan darat adalah hermaprodit. Umumnya telur menetas menjadi anak cacing, kecuali beberapa spesies laut mempunyai stadia larva yang berenang bebas (larva pilidium).
Phylum Rhynchocoela menurut berbagai sumber memiliki 900 nama spesies yang dikarakteristikkan dari panjang pendeknya spesies tersebut. Rhynchocoela hidup pada perairan yang airnya bersih dan segar. Potamonemertes sp dan Dichonemertes sp merupakan contoh Rhynchocoela yang habitatnya di air yang bersih.



2.2.            Fisiologi
Tubuhnya Rhynchocoela adalah bilateral simetri dan dorsoventrally flattened, berbentuk pipa dan berlubang, tubuh memiliki lebih dari dua sel, memiliki jaringan dan organ, panjang dan tipis seperti cacing.
Rhynchocoela tidak memiliki pigmen seperti annelida, tubuhnya halus. Mereka tidak punya anggota badan, seperti kaki atau tangan. Memiliki warna yang terang dan mata kecil yang berwarna gelap dan letaknya berada di depan dekat pada dasar. Ciri – ciri yang lain adalah sebagai berikut :
·      Memiliki system pencernaan makan dengan satu jalan yaitu, dimulai dari mulut dan diakhiri pada anus.
·      Memiliki system peredaran darah dengan pembuluh darah.
·      Memiliki susunan syaraf yang baik dan mempunyai otak.
·      Rongga tubuh rhynchocoela dipenuhi oleh sel-sel mesoderm yang membentuk jaringan parenkim; yang tersisa hanyalah rongga tubuh bagian anterior yang disebut rinkosel
·      Memiliki proboscis yang digunakan untuk mendapatkan mangsa.
·      Bereproduksi secara aseksual dengan menggunakan fragmentation (pemecahan) dan regeneration (pembaharuan) dan seksual dengan cara fertilization (pembuahan).
·      Biasanya bergerak dengan combinasi cilia yang meluncur dan peristaltic otot sebagai daya pengggerak, bergerak dengan berombak-ombak, seperti ular laut.
·      Termasuk spesies karnivora dan merupakan predator.
·      Hidup di air laut, pada tempat yang kondisi airnya bersih.
·      Merupakan triploblastic (endoderm, mesoderm, dan ectoderm)
·      Termasuk genus Lineus

2.2.1.      Sistem fisiologi          
1)      Reproduksi
          Reproduksi Rhynchocoela secara seksual dilakukan dengan cara pembuahan dengan cara menjadi jantan atau betina, karena spesies yang hidup pada perairan yang bersih biasanya hermaprodit dan dapat membuahi sendiri. Pada beberapa spesies betina akan menyimpan telurnya dan menetaskan turunannya yang masih kecil, kemudian gonad berkembang selama beberapa waktu.
          Normalnya telur akan membentuk rangkaian seperti gelatin dan kemudian sperma dikeluarkan di dekat rangkain tersebut, sehingga pembuahan terjadi diluar tubuh betina. Perkembangan telur dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung (berkembang secara langsung yaitu, dimana telur dapat tumbuh langsung menjadi Rhynchocoela kecil, seperti manusia, sedangkan berkembang secara tidak langsung yaitu, telur akan tumbuh menjadi larva dan kemudian mengalami metamorfosis untuk dapat menjadi Rhynchocoela kecil, seperti kupu-kupu).
Pada perkembangan secara tidak langsung telur, ada tiga macam bentuk, telur akan menjadi larva pilidium, larva Desor, atau  larva iwata. larva pilidium akan terlihat seperti helm  dengan lempengan cilia. Cilia itu digunakan untuk bergerak secara teratur pada arus air kearah mulut, agar makanan dapt masuk ke larva. Setelah beberapa waktu larva tersebut akan mengalami metamorfosis menjadi Rhynchocoela kecil. Larva iwata hanya terjadi pada satu spesies yaitu, Micrura akkeshiensis dan dapat berenang dengan bebas. Sedangkan larva desor merupakan karakteristik dari Lineus rubber, dan tidak dapat berenang. 

Selain dengan seksual, Rhynchocoela dapat bereproduksi secara aseksual, yaitu dengan cara fragmentasi atau pemecahan atau pembelahan tubuh, maksutnya adalah regenerasi setelah terjadi pemisahan. Rhynchocoela memiliki kemampuan yang baik untuk memperbaharui jaringan yang rusak. Bagian kecil dari induk yang akan tumbuh disebut dengan cyst.

2)      Sistem Pencernaan Makanan
          Sebagian besar Rhynchocoela termasuk karnivora, dan makanannya berupa invertebrate kecil seperti annelida, crustacea baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, moluska dan juga memakan telur invertebrate lainnya.
Yang membedakan Rhynchocoela dengan binatang lainnya adalah proboscis yang panjang, berada di suatu rongga yang didalamnya terdapat cairan yang disebut dengan rhynchocoel dan panjangnya lebih panjang dibanding tubuhnya. Rhynchocoela menggunakan proboscisnya untuk melumpuhkan mangsanya. Mula-mula proboscis menangkap mangsa kemudian melumpuhkannya dengan Rhynchocoel yang mengandung bisa. Proboscis akan melilitkan tubuh mangsa dan akan mengeluarkan bisa terus-terusan hingga mangsanya mati.
            Pencernaan makanan dimulai dari rhynchodaeum yang merupakan bagian depan dari proboscis. Lubang proboscis merupakan tempat penguraian yang lengkap dari mulut hingga system pencernaan makanan. Dibelakang mulut terdapat kerongkongan pendek, kemudian setelah kerongkongan terdapat suatu kantong yan besar kemudian perut lalu usus yang membujur hingga anus. Usus rhynchocoela berbentuk tabung atau pipa yang bercilia. Pada saat makanan dicerna, proboscis dan system pencernaan akan terbuka/ bekerja secara bersamaan.

3)      Sistem Ekresi
            Usus rhyncocoela pada dasarnya berbentuk tabung bercilia dan membujur dari mulut hingga anus. System pengeluaran metabolisme pada sebagian besar berbentuk sepasang saluran nephridial. Mungkin dalam satu binatang ada sekitar dua hingga tiga ratus pasang saluran nephridial.

4)        Sistem Respirasi
            Rhynchocoela tidak memiliki organ yang khusus untuk berespirasi. Mereka berdifusi melalui permukaan tubuhnya. Pada jenis P. corrugatus, oksigen mudah diserap oleh kulitnya karena mereka memiliki metabolisme tubuh yang rendah sedangkan oksigen pada Antartika memiliki level yang tinggi.
         
5)        Pertahanan diri
            Menurut sumber yang kami baca, Rhynchocoela tidak memiliki system pertahanan tubuh, seperti cacing biasa. Namun Rhynchocoela memiliki daya regenerasi yang tinggi sehingga bila ada jaringan rusak akan menjadi organisme baru. Cara berjalan Rhynchocoela juga menyerupai ular laut. Selain itu Rhynchocoela memiliki proboscis yang dapat mengeluarkan racun.

6)      Sistem peredaran darah
            Rhynchocoela memiliki system peredaran darah tertutup. Terdapat dua tipe pembuluh darah, tetapi tidak memiliki jantung. Pembuluh darah mempunyai klep dan beberapa lapisan otot yang dapat mengerut, sehingga darah dapat mengalir. Darah Rhynchocoela pada umumnya tidak berwarna, namun pada beberapa spesies ada yang memiliki hemoglobin merah atau hijau.

7)      Sistem syaraf
            Rhynchocoela mempunyai system syaraf yang berkembang baik dengan simpul syaraf pusat di kepala dan suatu jaringan syaraf yang menghubungkan berbagai organ tubuh dengan organ sensor. Mereka memiliki jarinan syaraf utama yang menghubungkan dengan organ perasa. Organ perasa ini meliputi alir kepala hingga sensor lubang kecil.
Nemertea mempunyai banyak  ocelli ( mata kecil ). Mata mereka ini terletak dekat dengan syaraf pusat.

8)       Sistem otot
            Rhynchocoela mempunyai suatu dinding tubuh berotot yang terdiri dari otot melingkar dan otot membujur. 
           
2.3.            Klasifikasi Rhynchocoela
            Kingdom          : Animalia
            Subkingdom     : Metazoa
            Superphylum    : Lophotrochozoa
            Phylum : Nemertea
Rhynchocoela dibagi menjadi dua kelas yaitu:
1)      Anopla
Merupakan Rhynchocoela yang memiliki proboscis yang sederhana . Mulutnya membuka di depan otak.
Contohnya kelas Anopla :
·           Ordo Paleonemertini
·           Ordo Heteronemertini (Famili : Lineidae, Genus : Lineus, Spesies :  Longissinus).

2)      Enopla
Merupakan Rhynchocoela yang memiliki proboscis yang lebih banyak atau komplit.
Mulut terbuka di belakang otak.
Contohnya kelas Enopla :
·           Ordo Bdellonemertini
Pada ordo ini hanya satu genus yang tidak memiliki stylet, yaitu Malacobdella yang mempunyai tiga spesies komensal pada rongga mantel kerang lautndan satu spesies dalam rongga mantel siput air tawar.
Spesies : Paranemertes, Amphiporus, Emplectonema dan Micrura.


2.4.            Keuntungan dan kerugian Rhynchocoela
Keuntungan dari Rhynchocoela adalah dapat dijadikan bio indikator air bersih. Sedangkan kerugian dari Rhynchocoela yaitu Carcinonemertes sp yang bersifat parasit, karena spesies ini hidup di bagian luar kerapak kepiting. Nemertea kecil ini memakan telur kepiting dalam jumlah yang banyak sehingga dapat merugikan perekonomian, khususnya peternak kepiting. 
III.   KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.        Rhynchocoela merupakan salah satu invertebrate air yang memiliki ciri khusus pada proboscisnya.
2.        Rhynchocoela di bagi menjadi dua kelas berdasarkan proboscisnya, yaitu Anopla dan Enopla.
3.        Rhynchocoela memiliki organ ekresi, respirasi, peredaran darah tertutup, dan system syaraf dan memiliki jaringan otot.
4.        Rhynchocoela bereproduksi secara aseksual dengan beregenerasi, dan secara seksual dengan pembuahan.
5.        Rhynchocoela dusah memiliki sistem digesti yang sempurna, sistem sirkulasi yang sejati, dan melakukan respirasi secara difusi.

GLOSARIUM


         Anelida           : Cacing beruas-ruas
         Carnivora       : Pemakan daging
         Crustasea       : Hewan akuatik yang bersendi-sendi (kepiting, udang)
         Cyst                : Bagian kecil dari induk Rhynchocoela yang akan tumbuh
         Fertilization    : Pembuahan dengan cara seksual
         Fragmentasi   : Memutuskan anggota badan
         Mollusca         : Phylum dari (siput, cumi-cumi, sotong)
         Ocelli              : Organ sensor (mata)
         Platyhelminthes          : Phylum dari cacing pipih
         Proboscis        : Semacam belalai yang dapat dijulurkan untuk menangkap mangsa
         Regenerasi     : Hidup kembali
         Rhabdit           : Racun dalam proboscis Rhynchocoela
         Silia                 : Bagian dari anggota badan yang digunakan untuk       bergerak secara teratur pada arus air ke arah mulut, agar makanan dapat masuk ke larva
         Stylet              : Duri beracun di dalam proboscia Rhynchocoela

DAFTAR PUSTAKA
Suwigrya, S.1998.Avertebrata Air Jilid 1. Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB : Bogor.
http://cronodon.com/BioTech/Nemertine.html diakses pada tanggal 17 Maret 2012
http://reefkeeping.com/issues/2004-01/rs/index.php diakses pada tanggal 17 Maret 2012.
http://palaeos.com/metazoa/pieces/hox/hox4.html diakses pada tanggal 17 Maret 2012.